Rabu, 08 Oktober 2014

Mutasyabih



A.      Pengertian
Term 'Mutasyabih' berasal dari bahasa Arab: "Mutasyabihun". secara etimologis kata  'Mutasyabih' yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "mirip" atau "samar-samar" mengandung berbagai konotasi yang biasanya membawa kepada ketidakpastian atau ragu (iltibas).[1] Timbulnya keraguan tersebut ialah dikarenakan sangat miripnya dua benda yang diamati tersebut, sehingga tidak dapat, atau sulit sekali menentukan perbedaan yang satu dari yang lain sebab keduannya sangat mirip. Kondisi inilah yang dijumpai dalam ayat Al-Qur'an; saking miripnya ayat yang satu dengan ayat yang lain, maka tidak dapat dibedakan antara masing-masing ayat itu karena semuanya berada pada level yang sama dari sudut balaghahnya, kemu'jizatannya, kebenaran informasi yang dibawanya, penempatan kata yang akurat dan susunan kalimat yang amat kokoh, dan sebagainya. Pengertian lughawi inilah yang dimaksud dengan kata 'Mutasyabihan' dalam ayat 23 dari surat al-Zumar. (Baidan, 2011: 153).
Mawardi Abdullah menuturkan bahwa mutasyabih berarti tasyabuh, yakni apabila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Syuhbah ialah keadaan dimana salah satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan diantara keduanya. Jadi mutasyabih secara bahasa berarti sesuatu yang menyerupai dari segala segi antara satu dengan yang lain.[2]   
Menurut Drs. H. Ahmad Syadili, M.A. dk, Mutasyabih adalah kebalikan dari Muhkam, yakni nas yang mengandung pengertian yang samar-samar dan mempunyai kemungkinan beberapa arti. Pengertian lain daripada mutsyabih/mutasyabihat adalah ayat-ayat yang hanya Alloh sendiri yang mengetahui majsudnya; Ayat-ayat yang tidak jelas maksudnya; ayat-ayat yang bisa menerima beberapa pengertian; ayat-ayat mengenai kisah-kisah dan perumpamaan (Syadali, dk, 1997: 83-84).
Menurut Prof. Dr. Nshruddin Baidan bahwa 'Muatasyabih' menunjukan kepada sesuatu yang samar-samar dan kabur dalalah atau pengertiannya sehingga ayat-ayat yang kondisi begini hanya pihak-pihak tertentu saja yang dapat mengetahui takwilnya.[3]
B.       Ruang Lingkup 'Mutasyabih'
Apabila diamati keseluruhan ayat-ayat Al-qur'an, maka akan dijumpai paling tidak tiga bentuk tasyabuh dalam ayat-ayat tersebut yaitu menyangkut redaksi (lafal); menyangkut makna; dan menyangkut lafal dan makna sekaligus.
1.      Lafal
Dari sudut lafal yang membuat suatu makna menjadai kabur, secara garis besarnya terlihat dalam dua kategori yaitu kosakata tunggal (mufrodat) dan susunan kalimat (tarkib). Kekaburan makna pada suatu kosakata biasanya disebabkan kata tersebut tidak biasa terpakai (gharib) atau lafal itu mempunyai banyak konotasi (musytarok). Contoh seperti pada surat Abasa ayat 31: lafal أَبًّا  sahabat utama Rasululloh seperti Abu Bakar dan Umar tidak dapat menjelaskan maksud kata tersebut sehingga Abu Bakar berkata ketika didesak oleh penanya: "Mana langit yang akan menaungiku, dan mana bumi tempat aku berpijak, jika ku katakan sesuatu yang tidak ada dalam Kitab Alloh?". Dalam redaksi yang berbeda Umar juga mengatakan tidak tahu maksud kata itu seperti dikatakannya: "lafad فَاكهة  jelas bagi kita, tapi yang dimaksud dengan أَبًّا ? Umar tertegun. Lalu berkata kepada dirinya: "ini terlalu berberat-berat hai Umar!". (Baidan, 2011: 156).
 Adapun kekaburan makna yang disebabkan oleh pola susunan kalimat, terbagi kedalam dua kategori. Pertama dikarenakan terlalu "padat"nya ungkapan (ijaz). Misalnya ayat 3 dari surat an-Nisa:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ....
Sepintas lalu tak jelas maksud yang dikandung oleh ungkapan itu, terutama hubungan antara berlaku adil tehadap anak yatim dengan perintah menikahi wanita. Ketidakjelasan maksud ayat itu, menurut az-Zarqani disebabkan sangat padatnya ungkapan tersebut. Oleh karenanya ayat itu perlu diberi penjelasan secukupnya, yang menurutnya adalah sebagai berikut:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى لَوْ تَزَوَّجْتُمُوْهُنَّ فَانْكِحُوا مِنْ غَيْرِ هِن    َّ مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاع ....
(Dan Jika kalian cemas (khawatir) tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak-anak yatim seandainya kalian mengawini (ibu) mereka, maka nikahilah wanita-wanita lain yang baik bagi kalian selain mereka dua, tiga atau empat…)

2.      Makna
Terjadi tasyabuh terhadap pengertian yang dikandung oleh suatu ayat biasanya terdapat pada ayat-ayat yang menginformasikan berita-berita ghaib seperti sifat-sifat Tuhan, malaikat, kondisi akhirat seumpama surga, neraka, hari kiamat dan sebagainya.[4] Semua itu tidak jelas bagi siapapun karena beluma ada yang mengalaminya. Sehingga apa yang diinformasikan oleh Al-Qur'an tidak bisa dibayangkan secara tepat dan akurat dalam benak kita, sementara Nabi menggambarkan alam akhirat dengan gambaran yang amat berbeda dari persepsi kita; mengenai surga, misalnya dikatakannya: "sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak."[5] Ibnu 'Abbas dalam menjelaskan hadits ini berkata: "Apa-apa yang ditemui di dunia ini tak lebih dari sekedar nama dari apa yang akan dirasakan kelak disurga. Alloh menyebut khamar, susu, air, madu, sutera, emas, perak, dan lain-lain. Itu semua sama namanya, tetapi citra rasa dan hakikatnya jauh berbeda".[6] Demikian pula mengenai kondisi ketuhanan Alloh, sebagaimana ditegaskan-Nya dalam ayat 11 dari surat as-Syura:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ...
"(Tidak ada yang sama dengan yang semisal-Nya satu jua pun)".
                        Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan itu akan terasa sangat kontra diktif bila dibandingkan dengan ayat-ayat atau hadits yang memvisualisasikan hal-hal yang ghaib seperti yang disebutkan diatas, terutama yang akan mengganggu pikiran ialah nash-nash yang menginformasikan tentang Tuhan seperti:
يَدُاللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ  (الفتح: 10)
"(Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka)",
وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا  (الفجر: 22)
"(Tuhan datang dan malaikat sedang berbaris-bari)",
الرَّحْمنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى  (طه: 5)
"(al-Rahman bersila di atas arasy)",
dan sebagainya. Pengertian semua itu semu dan samar-samar bagi kita, tak ada yang tahu hakikat yang sebenarnya di balik ungkapan serupa itu.
            Ketidakjelasan makna dari kata-kata tersebut timbul karena manusia juga memakai kata tersebut; tetapi Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia berbeda sama sekali dari makhluk-Nya dalam semua aspeknya. Oleh karenanya semua yang diinformasikan Tuhan tentang diri-Nya dalam Al-Qur'an atau hadits Nabi dan sebagainya adalah simbol-simbol semu yang tidak diketahui oleh manusia hakikat yang sebenarnya di balik simbol-simbol tersebut. Meskipun Tuhan menyatakan secara tegas: "Dia punya tangan, Dia datang, Dia bersila di atas 'Arasy dan seterusnya, namun semua keterangan itu tak sama dengan yang ada dalam persepsi manusia. Kondisi keterangan itu tak sama dengan yang ada dalam persepsi manusia. Kondisi inilah yang membuat pengertian ayat-ayat tersebut menjadi kabur bagi kita (Bidan, 2011: 160).
3.      Lafal dan Makna
Ruang lingkup ketiga kekaburan maksud ayat Al-Qur'an dilihat dari sudut lafal dan maknanya sekaligus. Menurut Al-Raghib Al-Ishfahani, kekaburan tersebut dapat dilihat dari lima aspek, yaitu kuantitas, kualitas, waktu, tempat dan persyaratan sah atau batalnya suatu perbuatan.[7] Kekaburan maksud dari segi lafal dan makna ayat sekaligus dapat dilihat pada ayat 189 dari surat al-Baqarah yang berbunyi:
وَلَيْسَ اْلبِرَّ  بِاَنْ تَأْتُوا اْلبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا ... (البقرة: 189)
"(Dan bukanlah kebaikan itu bahwa kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya)."
Kata al-Zarqani, ungkapan itu sulit sekali dipahami karena terlalu "padat" (ijaz). Dari itu perlu diberi penjelasan, misalnya dengan menambahkan setelah lafal
 مِنْ ظُهُوْرِهَا   "ان كنتم محرمين بحج او عمرة"
                        Dengan demikian ayat itu mengandung paham "Dan bukanlah kebaikan itu bahwa kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya jika kamu dalam keadaan ihram pada waktu pelaksanaan haji atau umrah.[8] Meskipun telah diberi penjelasan, namun masih tetap belum jelas maksud yang terkandung dalam ayat itu karena hal itu berkaitan erat dengan adat kebiasaan bangsa Arab di masa Jahiliah; di mana penduduk Madar jika ihram membuat pintu (lobang) di belakang rumah, lalu mereka masuk dan keluar dari lobang itu; penduduk Wabar lain lagi, mereka keluar dari belakang tirai secara sembunyi-sembunyi. Lalu turunlah ayat tersebut.
            Dari gambaran itu tampak kepada kita bahwa kekaburan maksud ayat itu terasa dari dua segi lafal dan makna sekaligus. Dari sudut lafal dikarenakan ungkapannya terlalu "padat", dan dari makna, berkaitan dengan latar belakang turunnya ayat tersebut (Baidan, 2011: 161).
C.      Jenis 'Mutasyabih'
Menurut Mawardi Abdullah, Mutasyabih mempunyai dua bentuk, yaitu; Mutasyabih ayat yang terdapat dalam lafadz huruf berupa huruf-huruf pada permulaan beberapa surah dalam Al-Qur'an, dan Mutasyabih yang terdapat dalam mafhum ayat seperti yang terdapat pada ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala (Mawardi, 2011: 97).


                [1] (Al-Zarqani, Loc. Cit.,; al-Zawi, op.cit., II, h. 670.) Dalam Prof. Dr. Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. II., 2011). hlm. 153.
                [2] Khalid Abdurrahman al-'Aks, Ushul al-Tafsir wa Qawa'iduhu, (Beirut: Dar al-Nafis, 1996) cet. II, h. 355. dalam Mawardi Abdullah, Ulumul Qur'an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, th. 2011, hal. 93.
                [3] Prof. Dr. Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. II., 2011). Hal. 155.
                [4] Ibid. hal. 159.
                [5] (Hadits ini berasal dari Abu Hurairah, selanjutnya, lihat Matn al-Bukhari bi Hasyiyat al-Sindi, Singapura, Sulayman Mar'i, t, th., II, h. 217) dalam Ibid. hal. 159.
                [6] (lebih lanjut,  lihat Ibnu Taymiayat, Muqaddimat fi Ushul al-Tafsir, Tahqiq Dr. Adnan Zurzur, Kuwait, Dar Al-Qur'an al-Karim, cet. ke-1, 1997, h. 13) dalam  Ibid. hal. 159.
                [7](lebih lanjut, lihat al-Raghib al-Ishfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, tahqiq Muhammad Sayyid Kaylaru, Mesir, Mushthafa al-Bab al-Halabi, t.th., h.255.) dalam Ibid, hal.160.
                [8] (Al-Zarqani, op. cit., h. 280), dalam Ibid,  hal. 161.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar