A. Pengertian
Term 'Mutasyabih' berasal dari bahasa
Arab: "Mutasyabihun". secara etimologis kata 'Mutasyabih' yang dalam bahasa
Indonesia dapat diartikan "mirip" atau "samar-samar"
mengandung berbagai konotasi yang biasanya membawa kepada ketidakpastian atau
ragu (iltibas).[1]
Timbulnya keraguan tersebut ialah dikarenakan sangat miripnya dua benda yang
diamati tersebut, sehingga tidak dapat, atau sulit sekali menentukan perbedaan
yang satu dari yang lain sebab keduannya sangat mirip. Kondisi inilah yang
dijumpai dalam ayat Al-Qur'an; saking miripnya ayat yang satu dengan ayat yang
lain, maka tidak dapat dibedakan antara masing-masing ayat itu karena semuanya
berada pada level yang sama dari sudut balaghahnya, kemu'jizatannya, kebenaran
informasi yang dibawanya, penempatan kata yang akurat dan susunan kalimat yang
amat kokoh, dan sebagainya. Pengertian lughawi inilah yang dimaksud dengan kata
'Mutasyabihan' dalam ayat 23 dari surat al-Zumar. (Baidan, 2011: 153).
Mawardi Abdullah menuturkan bahwa mutasyabih
berarti tasyabuh, yakni apabila salah satu dari dua hal serupa dengan
yang lain. Syuhbah ialah keadaan dimana salah satu dari dua hal itu
tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan diantara keduanya.
Jadi mutasyabih secara bahasa berarti sesuatu yang menyerupai dari segala segi
antara satu dengan yang lain.[2]
Menurut Drs. H. Ahmad Syadili, M.A. dk,
Mutasyabih adalah kebalikan dari Muhkam, yakni nas yang mengandung pengertian
yang samar-samar dan mempunyai kemungkinan beberapa arti. Pengertian lain
daripada mutsyabih/mutasyabihat adalah ayat-ayat yang hanya Alloh sendiri yang
mengetahui majsudnya; Ayat-ayat yang tidak jelas maksudnya; ayat-ayat yang bisa
menerima beberapa pengertian; ayat-ayat mengenai kisah-kisah dan perumpamaan
(Syadali, dk, 1997: 83-84).
Menurut Prof. Dr. Nshruddin Baidan bahwa 'Muatasyabih'
menunjukan kepada sesuatu yang samar-samar dan kabur dalalah atau
pengertiannya sehingga ayat-ayat yang kondisi begini hanya pihak-pihak tertentu
saja yang dapat mengetahui takwilnya.[3]
B. Ruang
Lingkup 'Mutasyabih'
Apabila diamati keseluruhan ayat-ayat
Al-qur'an, maka akan dijumpai paling tidak tiga bentuk tasyabuh dalam
ayat-ayat tersebut yaitu menyangkut redaksi (lafal); menyangkut makna; dan
menyangkut lafal dan makna sekaligus.
1. Lafal
Dari sudut lafal yang membuat suatu makna
menjadai kabur, secara garis besarnya terlihat dalam dua kategori yaitu
kosakata tunggal (mufrodat) dan susunan kalimat (tarkib).
Kekaburan makna pada suatu kosakata biasanya disebabkan kata tersebut tidak
biasa terpakai (gharib) atau lafal itu mempunyai banyak konotasi
(musytarok). Contoh seperti pada surat Abasa ayat 31: lafal أَبًّا
sahabat utama Rasululloh seperti Abu Bakar dan Umar tidak dapat
menjelaskan maksud kata tersebut sehingga Abu Bakar berkata ketika didesak oleh
penanya: "Mana langit yang akan menaungiku, dan mana bumi tempat aku
berpijak, jika ku katakan sesuatu yang tidak ada dalam Kitab Alloh?".
Dalam redaksi yang berbeda Umar juga mengatakan tidak tahu maksud kata itu
seperti dikatakannya: "lafad فَاكهة
jelas bagi kita, tapi yang dimaksud dengan أَبًّا ? Umar tertegun. Lalu berkata kepada
dirinya: "ini terlalu berberat-berat hai Umar!". (Baidan, 2011: 156).
Adapun kekaburan makna yang disebabkan oleh
pola susunan kalimat, terbagi kedalam dua kategori. Pertama dikarenakan terlalu
"padat"nya ungkapan (ijaz). Misalnya ayat 3 dari surat
an-Nisa:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي
الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ
وَرُبَاعَ ....
Sepintas
lalu tak jelas maksud yang dikandung oleh ungkapan itu, terutama hubungan
antara berlaku adil tehadap anak yatim dengan perintah menikahi wanita.
Ketidakjelasan maksud ayat itu, menurut az-Zarqani disebabkan sangat padatnya
ungkapan tersebut. Oleh karenanya ayat itu perlu diberi penjelasan secukupnya,
yang menurutnya adalah sebagai berikut:
وَإِنْ خِفْتُمْ
أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى لَوْ تَزَوَّجْتُمُوْهُنَّ فَانْكِحُوا مِنْ
غَيْرِ هِن َّ مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ
النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاع ....
(Dan Jika
kalian cemas (khawatir) tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak-anak yatim
seandainya kalian mengawini (ibu) mereka, maka nikahilah wanita-wanita lain
yang baik bagi kalian selain mereka dua, tiga atau empat…)
2. Makna
Terjadi
tasyabuh terhadap pengertian yang dikandung oleh suatu ayat biasanya
terdapat pada ayat-ayat yang menginformasikan berita-berita ghaib seperti
sifat-sifat Tuhan, malaikat, kondisi akhirat seumpama surga, neraka, hari
kiamat dan sebagainya.[4]
Semua itu tidak jelas bagi siapapun karena beluma ada yang mengalaminya.
Sehingga apa yang diinformasikan oleh Al-Qur'an tidak bisa dibayangkan secara
tepat dan akurat dalam benak kita, sementara Nabi menggambarkan alam akhirat dengan
gambaran yang amat berbeda dari persepsi kita; mengenai surga, misalnya
dikatakannya: "sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum
pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak."[5]
Ibnu 'Abbas dalam menjelaskan hadits ini berkata: "Apa-apa yang ditemui
di dunia ini tak lebih dari sekedar nama dari apa yang akan dirasakan kelak
disurga. Alloh menyebut khamar, susu, air, madu, sutera, emas, perak, dan
lain-lain. Itu semua sama namanya, tetapi citra rasa dan hakikatnya jauh
berbeda".[6]
Demikian pula mengenai kondisi ketuhanan Alloh, sebagaimana ditegaskan-Nya
dalam ayat 11 dari surat as-Syura:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
شَيْئٌ...
"(Tidak ada yang sama dengan yang
semisal-Nya satu jua pun)".
Pernyataan-pernyataan
yang dikemukakan itu akan terasa sangat kontra diktif bila dibandingkan dengan
ayat-ayat atau hadits yang memvisualisasikan hal-hal yang ghaib seperti yang
disebutkan diatas, terutama yang akan mengganggu pikiran ialah nash-nash yang
menginformasikan tentang Tuhan seperti:
يَدُاللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ (الفتح: 10)
"(Tangan
Alloh di atas tangan-tangan mereka)",
وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22)
"(Tuhan
datang dan malaikat sedang berbaris-bari)",
الرَّحْمنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5)
"(al-Rahman bersila di atas arasy)",
dan
sebagainya. Pengertian semua itu semu dan samar-samar bagi kita, tak ada yang
tahu hakikat yang sebenarnya di balik ungkapan serupa itu.
Ketidakjelasan
makna dari kata-kata tersebut timbul karena manusia juga memakai kata tersebut;
tetapi Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia berbeda sama sekali dari makhluk-Nya
dalam semua aspeknya. Oleh karenanya semua yang diinformasikan Tuhan tentang
diri-Nya dalam Al-Qur'an atau hadits Nabi dan sebagainya adalah simbol-simbol
semu yang tidak diketahui oleh manusia hakikat yang sebenarnya di balik
simbol-simbol tersebut. Meskipun Tuhan menyatakan secara tegas: "Dia punya
tangan, Dia datang, Dia bersila di atas 'Arasy dan seterusnya, namun semua
keterangan itu tak sama dengan yang ada dalam persepsi manusia. Kondisi
keterangan itu tak sama dengan yang ada dalam persepsi manusia. Kondisi inilah
yang membuat pengertian ayat-ayat tersebut menjadi kabur bagi kita (Bidan,
2011: 160).
3.
Lafal
dan Makna
Ruang lingkup ketiga kekaburan
maksud ayat Al-Qur'an dilihat dari sudut lafal dan maknanya sekaligus. Menurut
Al-Raghib Al-Ishfahani, kekaburan tersebut dapat dilihat dari lima aspek, yaitu
kuantitas, kualitas, waktu, tempat dan persyaratan sah atau batalnya suatu
perbuatan.[7]
Kekaburan maksud dari segi lafal dan makna ayat sekaligus dapat dilihat pada
ayat 189 dari surat al-Baqarah yang berbunyi:
وَلَيْسَ اْلبِرَّ بِاَنْ تَأْتُوا اْلبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا
... (البقرة: 189)
"(Dan bukanlah kebaikan itu bahwa kamu
memasuki rumah-rumah dari belakangnya)."
Kata al-Zarqani, ungkapan itu
sulit sekali dipahami karena terlalu "padat" (ijaz). Dari itu
perlu diberi penjelasan, misalnya dengan menambahkan setelah lafal
مِنْ
ظُهُوْرِهَا "ان كنتم محرمين بحج او عمرة"
Dengan demikian ayat itu
mengandung paham "Dan bukanlah kebaikan itu bahwa kamu memasuki
rumah-rumah dari belakangnya jika kamu dalam keadaan ihram pada waktu
pelaksanaan haji atau umrah.[8]
Meskipun telah diberi penjelasan, namun masih tetap belum jelas maksud yang
terkandung dalam ayat itu karena hal itu berkaitan erat dengan adat kebiasaan
bangsa Arab di masa Jahiliah; di mana penduduk Madar jika ihram membuat pintu
(lobang) di belakang rumah, lalu mereka masuk dan keluar dari lobang itu;
penduduk Wabar lain lagi, mereka keluar dari belakang tirai secara
sembunyi-sembunyi. Lalu turunlah ayat tersebut.
Dari
gambaran itu tampak kepada kita bahwa kekaburan maksud ayat itu terasa dari dua
segi lafal dan makna sekaligus. Dari sudut lafal dikarenakan ungkapannya
terlalu "padat", dan dari makna, berkaitan dengan latar belakang
turunnya ayat tersebut (Baidan, 2011: 161).
C. Jenis 'Mutasyabih'
Menurut Mawardi Abdullah, Mutasyabih
mempunyai dua bentuk, yaitu; Mutasyabih ayat yang terdapat dalam lafadz
huruf berupa huruf-huruf pada permulaan beberapa surah dalam Al-Qur'an, dan Mutasyabih
yang terdapat dalam mafhum ayat seperti yang terdapat pada ayat-ayat
yang berbicara tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala (Mawardi, 2011:
97).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar