Rabu, 15 Oktober 2014

I'JAZ AL-QUR'AN



I'JAZ AL-QUR'AN

A.  Pengertian I'jaz Al-Qur'an
I'jaz menurut bahasa artinya melemahkan. Dan mu'jizat artinya sesuatu yang luar biasa, yang ajaib atau yang menakjubkan. Sedangkan menurut istilah mu'jizat ialah sesuatu yang bernilai sangat tinggi dan bisa mengungguli seluruh masalah yang berkembang, di samping kedatangannya mu'jizat memang sedang ditunggu oleh kaum. (Mutawally dalam Syadali-Ahmad Rofi'i, 1997: 9).
Drs. H. Mustopa Kamal, M. Pd. Menuliskan dalam bukunya "Buku Dars Ulumul Qur'an" kata I'jaz merupakan bentuk mashdar yang diambil dari fi'il madliya "a'jaza" yang berarti menetapkan kelemahan (Itsbat al-'ajz). Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, sebagai lawan dari kemampuan (al-qudrah). Apabila kemu'jizatan telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mu'jiz (sesuatu yang melemahkan).[1]

KOLERASI ILMU TASAWUF, KALAM, FIQIH, FILSAFAT & ILMU JIWA



HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN
ILMU KALAM, ILMU FIQIH, ILMU FILSAFAT
DAN ILMU JIWA (TRANSPERSONAL PSIKOLOGI)

1.    Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Kalam
Ilmu Kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksud adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis. Adapun argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Qur'an dan Hadits. Ilmu Kalam sering menempatkan diri pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), tetapi dengan metode-metode argumentrasi yang dialektik. Jika pembicaraan kalam Tuhan ini berkisar pada keyakinan yang harus dipegang oleh umat islam, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu 'aqa'id.[1]
Pembicaraan materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohani). Sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Alloh bersifat Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), Kalam (Berbicara), Iradah (Berkemauan), Qudrah (Kuasa), Hayat (Hidup), dan sebagainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimana seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Alloh Mendengar dan Melihatnya; bagaimana pula hati seseorang ketika membaca Al-Qur'an; dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah (Kekuasaan) Alloh?

Rabu, 08 Oktober 2014

Mutasyabih



A.      Pengertian
Term 'Mutasyabih' berasal dari bahasa Arab: "Mutasyabihun". secara etimologis kata  'Mutasyabih' yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "mirip" atau "samar-samar" mengandung berbagai konotasi yang biasanya membawa kepada ketidakpastian atau ragu (iltibas).[1] Timbulnya keraguan tersebut ialah dikarenakan sangat miripnya dua benda yang diamati tersebut, sehingga tidak dapat, atau sulit sekali menentukan perbedaan yang satu dari yang lain sebab keduannya sangat mirip. Kondisi inilah yang dijumpai dalam ayat Al-Qur'an; saking miripnya ayat yang satu dengan ayat yang lain, maka tidak dapat dibedakan antara masing-masing ayat itu karena semuanya berada pada level yang sama dari sudut balaghahnya, kemu'jizatannya, kebenaran informasi yang dibawanya, penempatan kata yang akurat dan susunan kalimat yang amat kokoh, dan sebagainya. Pengertian lughawi inilah yang dimaksud dengan kata 'Mutasyabihan' dalam ayat 23 dari surat al-Zumar. (Baidan, 2011: 153).