I'JAZ AL-QUR'AN
A. Pengertian I'jaz Al-Qur'an
I'jaz menurut bahasa artinya melemahkan. Dan mu'jizat
artinya sesuatu yang luar biasa, yang ajaib atau yang menakjubkan. Sedangkan
menurut istilah mu'jizat ialah sesuatu yang
bernilai sangat tinggi dan bisa mengungguli seluruh masalah yang berkembang, di
samping kedatangannya mu'jizat memang sedang ditunggu oleh kaum. (Mutawally
dalam Syadali-Ahmad Rofi'i, 1997: 9).
Drs. H. Mustopa Kamal, M. Pd. Menuliskan dalam bukunya "Buku
Dars Ulumul Qur'an" kata I'jaz merupakan bentuk mashdar yang diambil
dari fi'il madliya "a'jaza" yang berarti menetapkan kelemahan (Itsbat
al-'ajz). Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan
mengerjakan sesuatu, sebagai lawan dari kemampuan (al-qudrah). Apabila
kemu'jizatan telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mu'jiz (sesuatu
yang melemahkan).[1]
Yang dimaksud denga I'jaz dalam pembicaraan di sini
(menurut istilah) adalah menempakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagi
seorang Rasul, dengan menampakkan kelemahan orang-orang Arab untuk menghadapi
mu'jizatnya yang abadi (yaitu Al-Qur'an), dan kelemahan generasi-generasi
sesudah mereka. (Manna Qathan: 258-259 dalam Kamal, 2009: 85).
Mu'jizat itu hanya diberikan oleh Alloh kepada para Nabi
atau Rasul Alloh untuk menumbangkan kepercayaan manusia yang telah
mempertuhankan selain Alloh subhanahu wa ta'ala. Mu'jizat yang ada pada
Nabi Muhammad sollallohu 'alaihi wasallam berupa Al-Qur'an jelas berbeda
dengan mu'jizat para Rasul sebelumnya. I'jaz al-Qur'an (kemu'jizatan
al-Qur'an) melebihi segalanya dibanding dengan apa yang sedang mereka
banggakan. Dan keutamaan mu'jizat al-Qur'an ini bukan hanya ditunjukan kepada
bangsa Arab, namun al-Qur'an dengan keutamaan mu'jizatnya itu diperuntukan
kepada seluruh alam.[2]
B. Dasar
dan Urgensi Pembahasan
Menurut
Dr. Subhi Shaleh, bahwa orang yang pertama menulis I'jazul Qur'an adalah Imam
Al-Jahid dengan bukunya "Nudlumul Qur'an" kemudian Muhammad
bin Zaid Al-Wasithi dengan bukunya "I'jazul Qur'an", kemudian
Imam Ar-Rumani dengan bukunya "I'jaz", kemudian Al-Qadi Abu
Bakar Al-Baqilani dengan bukunya "I'jazul Qur'an" dan Abd.
Qadir Al-Jurjani dengan bukunya "Balailul 'I'jaz dan Balagah".
Dan menurut pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menulis
I'jazul Qur'an ialah Abu Ubaidah dengan kitab "Majazul Qur'an",
kemudain Al-Farra dengan kitabnya: "Ma'anil Qur'an" dan Ibnu
Qutaibah dengan kitabnya "Ta'wilu Musykilul Qur'an."
Disamping
untuk menumbuhakan keyakinan pada manusia bahwa Al-Qur'an betul-betul wahyu
dari Alloh, I'jazul al-Qur'an juga merupakan bukti kebenaran Muhammad sebagai
Rasul Alloh. I'jaz al-Qur'an memiliki beberapa tujuan:[3]
1. Untuk membuktikan
kerasulan Nabi Muhammad sollallohu 'alaihi wasallam.
2. Untuk membuktikan
bahwa kitab suci Al-Qur'an benar-benar merupakan wahyu dari Alloh.
3. Untuk menunjukan
kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia.
4. Untuk menunjukan
kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia.
C. Macam-Macam Mu'jizat
Secara garis
besar Mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad dan Nabi-nabi pendahulunya dapat
digolongkan ke dalam dua jenis, ya'ni: mu'jizat hissi dan mu'jizat
maknawi ('aqliyah).[4]
Adapun mu'jizat hissi yaitu mu'jizat yang dapat dilihat secara kasat mata,
didengar oleh telinga dirasa dan ditangkap oleh panca indra. Mu'jizat semacam
ini adalah mu'jizat yang berlaku secara temporal sesuai dengan kebutuhan.
Mu'jizat Nabi-nabi terdahulu semuanya masuk pada tipe yang pertama ini.
Sedangkan maknawi adalah mu'jizat yang tidak dapat dicapai dengan kekuatan
panca indra semata, tetapi dicapai dengan kekuatan dan kecerdasan akal pikiran.
Hanya orang-orang yang mempunyai akal sehat dan kecerdasan yang tinggi,
mempunyai hati nurani serta berbudi luhur sajalah yang mampu menagkap dan
memahami kebesaran mu'jizat model ini.[5]
Kedua jenis mu'jizat
ini diberikan kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur'an mengandung keduanya. Bahkan
yang maknawi ('aqli) jauh lebih besar porsinya dibandingkan dengan hissi.
Sebab Al-Qur'an memang dipersiapkan untuk menghadapi dan mengantisipasi serta
mengendalikan segala zaman, sebagai konsekuensi dari proses kenabian dan
kerasulan yang terhenti dan Muhammad sebagai khatam an-nabiyyin
(Abdullah, 2011: 127).
D. Pendapat Ulama tentang I'jaz al-Qur'an
Para ulama sepakat bahwa kemu'jizatan Al-Qur'am itu
karena dzatnya, serta tidak seorangpun yang sanggup mendatangkan sesuatu
sebanding dengannya. Tetapi sebagian mereka berbeda-beda dalam hal meninjau
segi kemu'jizatan Al-Qur'an. Sebagian ulama berpendapat bahwa segi
kemu'jizatannya adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur'an itu sendiri,
yaitu segi nadzamnya yang asing yang berbeda dengan susunan orang Arab
pada umumnya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemu'jizatannya itu
terkandung dalam lafadz-lafadznya yang jelas, redaksinya yang mengandung sastra
tingkat tinggi. Juga karena Al-Qur'an terhindar dari adanya pertentangan, serta
mengandung makna-makna yang mendalam. Hal lainnya yaitu karena adanya
keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-keindahan yang menarik yang
terkandung dalam Al-Qur'an, baik permulaan, tujuan, maupun dalam menutup setiap
surat.[6]
Paham Sharfah yang dikemukakan Al-Syarif al-Murtadha berpendapat bahwa Al-Qur'an itu mu'jiz
bi al-sharfah. Maksudnya, Alloh subhanahu wa ta'ala memalingkan
hamba-hamba-Nya dengan menarik kehendak mereka dan mengeluhkan lidah-lidah
mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an. Paham ini mengatakan
seandainya jika proses memalingkan tidak ada maka manusia akan mampu membuat
yang semisal dengannya. Sementara paham ini ditolak oleh al-Khatib, beliau
mengatakan bahwa al-sharfah merupakan hal yang tidak begitu berbeda
dengan I'jaz, hanya saja petunjuk ayat menunjukan sebaliknya (Abdullah, 2011:
129).
Berikut ini beberapa Ulama berpendapat tentang segi-segi
kemu'jizatan Al-Qur'an:[7]
1.
Menurut AL-Jahid, Al-Jurzani, dan Abd. Qahir Al-Jurzani,
bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an hanya pada susunan lafal-lafalnya saja.
2.
Menurut Muh. Ismail Ibrahim, Az-Zamakhsyari dan Fahrur
Razi, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an hanya pada keilmiahannya saja.
3.
Menurut Imam Qurtubi, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an karena
uslubnya lain dari yang lain, susunannya indah, adanya berita kejadian-kejadian
yang akan terjadi dan lain sebagainya.
4.
Menurut Az-Zarqani, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an ada pada
keindahan bahasa dan uslub-uslubnya, berisi beberapa ilmu pengetahuan, memenuhi
semua hajat manusia, adanya berita gaib dan lain-lainnya.
E. Konsep Mu'jizat al-Qur'an Menurut Muhammad Arkoun
Arkoun adalah sarjana Muslim pertama dalam
sejarah penafsiran al-Qur'an yang telah mengangkat isu krusial tentang pembacaan teks
menurut epistemologi baru yang diperkenalkan oleh linguistik dan semiotik modern.
Arkoun menyatakan kekagumannya terhadap materi gramatikal dan perkamusan yang
dikumpulkan oleh para penafsir klasik. Arkoun mengajukan dua pendekatan dalam
merekomendasikan sistem pengertian yang menguasai hubungan antara persepsi dan
kata hati dalam al-Qur'an. Seperti pendekatan leksikal dan sastra. Arkoun
mengelompokan kata-kata di dalam al-Qur'an untuk berbagai fungsi dan membaginya
ke dalam kosa kata yang berbeda-beda. Selanjutnya dia mengambil pelajaran dari
kata-kata yang mempunyai hubungan antara persepsi dan kata hati.
Arkoun mengemukakan bagi para pengikut, keajaiban adalah
perwujudan dari superior, transenden, alasan yang tak dapat diduga. Oleh karena itu ia memiliki fungsi kognitif.
Inilah keindahan dan kekayaan kata dan merupakan nilai keajaiban sebuah
penciptaan yang mengijinkan manusia untuk bisa merasakan eksistensi Tuhan, sang
pencipta. Kita melihat bagaimana al-Qur'an membangun hubungan antara persepsi
dan kata hati yang didasarkan pada penerimaan keajaiban bagi mereka yang tidak percaya,
pada suatu abad, keajaiban hanya merupakan konsesi temporal dari sebuah
ekspresi imajinasi.
Menurutnya, perdebatan tentang keajaiban sebagai
"merveilles de la creation" perlu ditinjau dari dua persepektif yang
saling melengkapi:[8]
1.
Masyarakat bisa mendiskusikan al-Qur'an sebagai tempat
proyeksi iman, atau sebagai kemungkinan ideal nurani Muslim yang secara
tradisional sudah dipengaruhi oleh tekanan psikocultular. Wacana al-Qur'an
telah mengungkapkan dalam produknya sebuah kekuatan perluasan dalam menciptakan
imajinasi.
2.
Persepektif yang kedua yang tercakup dalam pengetahuan
Muslim yang memiliki linguistik yang secara tepat merasa berbohong dalam
"meniadakan kebiasaan (naqad al-'ada) yang digambarkan dalam
al-Qur'an.
Menurut Arkoun tidak mungkin berbicara keajaiban
al-Qur'an kecuali kalau kita meninggalkan semua definisi yang membatasi. Tidak
ada yang tidak beralasan dalam keajaiban yang terdapat di dalam kitab Tuhan; ia
hadir untuk sebuah tujuan, misal, untuk memerintahkan (Arkoun dalam
Kusmana-Syamsuri, 2004: 106).
F. Al-Zamakhsari dan Sifat Alamiyah al-Qur'an yang
menakjubkan.
I'jaz Qur'an, menurut al-Zamakhsari, haruslah berupa nazm,
Nazm seharusnya dianggap sebagai induk al-Qur'an. Nazm bisa dilihat
dalam bentuk keindahan redaksi dalam penyusunan prase dan selektifitas kata
yang tinggi dalam pewahyuannya. Lebih dari itu, dia juga mengikuti aksioma
aturan gramatikal. Metode ini dipraktekan oleh al-Zamakhsari dalam menjelaskan
al-Qur'an dari aspek estetika (al-Juwainy dalam Kusmana-Syamsuri, 2004: 142).
Dalam kitabnya, al-Zamakhsari memberikan beberapa contoh
dengan menunjukan gaya bahasa kitab al-Qur'an yang tinggi. Diantaranya seperti
yang digambarkan oleh al-Zamakhsari tentang contoh gaya i'jaz dalam ayat yang
berbunyi: hudan li al-muttaqin ("petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa"). Komentar al-Zamakhsari terhadap ayat ini diberikan dalam
bentuk dialog sebagai berikut: jika kamu mengatakan, mengapa tuhan tidak
berbicara tentang petunjuk kepada mereka yang tersesat. Saya mengatakan, karena
mereka yang tersesat dibagi menjadi dua golongan. Pertama, kelompok yang
diketahui memilih pembaharuan terhadap sikap mental, kelakuan, pandangan mereka
untuk mendapatkan petunjuk yang benar. Dengan kata lain, petunjuk bukanlah
tujuan untuk mereka yang tersesat dalam arti bahwa mereka akan tetap dalam
kesesatannya. Sementara mereka yang ingin merubah siakap mereka bisa
dikategorikan kedalam kelompok yang mencari petunjuk Tuhan.[9]
Disamping nazm untuk membuktikan i'jaz al-Qur'an,
al-Zamakhsari juga menyebutkan aspek informasi yang tidak diketahui
(misterius), dia menjelaskan dua ayat ini QS. Al-Baqarah: 94-95 ("katakanlah:
katakanlah jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat (surga) itu khusus
untukmu disisi Alloh, bukan untuk orang lain, maka inginlaj kematian (mu) jika
kamu memang benar. Tetapi mereka tidak akan mengingini kematian itu selamanya
karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri").
Dua ayat ini mengandung keajaiban karena mereka memiliki berita misterius,
sebagaimana Tuhan berfirman bahwa mereka tidak akan melaksanakannya (lan
taf'alu) dan ayat berikutnya dalam QS. al-Hijr: 91 ("siapa
yang telah memecah-belah al-Qur'an kedalam beberapa penggalan"). Sesuatu
disebut i'jaz selama ayat memberikan informasi tentang apa yang akan terjadi
(Kusmana-Syamsuri, 2004: 144-145).
Kesimpulan, deskripsi yang dipaparkan oleh al-Zamakhsari
mengenai penafsiran al-Qur'an tidak hanya mengungkap arti yang terkandung di
dalamnya, tetapi dia juga menyingkap rahasia i'jaz al-Qur'an. Metode yang ia
gunakan dalam menjelaskannya adalah dengan menggunakan teori-teori ulama
terdahulu yang disarikan dalam metode nazm. Dengan nazm, kata,
arti dan aksioma peraturan grammar disusun secara rapi yang kemudian mewujud
menjadi keindahan terakhir yang bukan tiruan, dengan komposisi tinggi, gaya
bahasa yang sempurna, dan memiliki kedalaman arti.[10]
G. I'jaz Al-Qur'an Dalam Konsep Eskatologi Al-Qur'an
I'jaz al-Qur'an adalah konsep yang menakjubkan dari al-Qur'an, dipercayai
bahwa al-Qur'an adalah mu'jizat Muhammad. Selagi i'jaz al-Qur'an berarti
ketidak dapat ditiruan atau keunikan Qur'an yaitu keperayaan bahwa al-Qur'an
tidak dapat ditiru (Nanang Tahqiq dalam Kusmana-Symsuri, 2004: 65). Banyak para
penulis melewatkan fakta bahwa Qur'an adalah sumber bimbingan yang sangat
mendasar untuk orang islam. Para penulis ini mempertimbangkannya semata-mata
dalam kaitan dengan gaya puitisnya. Sesungguhnya al-Qur'an bukanlah puisi
meskipun demikian muatannya puitisi.[11]
Al-Qur'an
memberikan suatu perasaan positif terhadap kata-kata, yang sebelumnya digunakan
secara negatif. Sebagai contoh, arti dari istilah "kerendahan hati"
yang dianggap oleh Arab penyembah berhala sebagai sikap negatif yang telah
diperluas oleh al-Qur'an dan memberikan suatu isi positif. Sebaliknya,
al-Qur'an mengubah hal positif perasaan positif kata-kata tertentu dan
memberinya suatu konotasi negatif. Sebagai contoh, konotasi positif pada kata
"politheisme" diganti dengan sesuatu yang negatif oleh-oleh
al-Qur'an.[12]
Ini adalah alasan dasar mengapa Muhammad terkejut dan demam ketika ia menerima
wahyu itu. Seperti kondisi psikologis telah pasti bukan merupakan hasil
"berat/beban" tentang wahyu dalam terminologi psikis, tetapi lebih
pada persepsi Nabi tentang pokok materi wahyu yang bertentangan dan mencoba
untuk merubah tradisi Arab. Sebagai contoh, ayat yang pertama, yang diungkapkan
adalah al-'Alaq adalah benih Sel: 1, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu
yang telah menciptakan".[13]
Muhammad terkejut dan merasa demam ketika ayat ini diungkapkan. Ia merasakan
seperti itu karena ia telah berhubungan dengan sesuatu yang diluar imajinasinya
(Kusmana-Syamsuri, 2004: 67).
Lebih dari
itu, Al-Qur'an berisi kata-kata dari beberapa bahasa meskipun demikian arti
dari ayat-ayat dimana mereka terjadi masih dengan mudah dapat dimengerti.
Kata-kata dari Etiopia, Persia, Yunani, India, Shiria, Ibrani, Nabatean,
Coptic, Turki, Negro, Berber terjadi di dalam al-Qur'an ini. Unsur-unsur asing
dalam kosa kata al-Qur'an dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama,
kata-kata yang kesemuanya bukan bahasa Arab dan tidak dimungkinkan ditemukan
dalam akar-akar bahasa Arab, e.g. istabraq (kain brokat sutera), zanjabil
(jahe), firdaus (surga). Kedua, Kata-kata Semit yang terjadi pada
al-Qur'an dalam beberapa hal digunakan dalam bahasa yang lain tetapi bukan
dalam bahasa Arab, meskipun demikian akar kata yang segitiga mereka ditemukan
dalam bahasa Arab, e.g. fatir (pencipta), sawami' (biara), darasa (belajar
[kitab injil] dengan jelas). Ketiga, kata-kata asli bahasa Arab dan yang
biasanya digunakan, tetapi hal tersebut digunakan di dalam al-Qur'an dengan
maksud/arti teknis atau dalam pengertian teknologi yang dipengaruhi oleh
bahasa-bahasa lain, e.g. nur (cahaya) yang digunakan dalam pengertian agama,
ruh (roh) dan terutama ruh al-quds (roh Kekudusan), kalimah (suatu kata) ketika
digunakan untuk Yesus.[14]
Ilmu eskatologi
al-Qur'an menunjukan pengetian yang begitu banyak seperti Yawm al-Din
(hari penghakiman), al-Yawm al-Akhiir (hari akhir), Yawm al-Qiyamah
(hari kebangkitan atau hari kiamat), al-sa'ah (waktu), Yawm al-Fasl
(hari pembedaan), ketika yang baik dipisahkan dari yang jelek, Yawm al-Jam'
(hari pengumpulan, manusia kepada kehadiran Tuhan), atau Yawm at-Talaqi
(hari peretmuan, manusia dengan Tuhan).[15]
Salah satu corak yang penting dari ilmu eskatologi ini adalah bahwa baik hidup
maupun dunia fana, dan bahwa keduanya secara pasti, dan segera, datang
"kepada suatu akhir (Kusmana-Syamsuri, 2004: 69).
Ilmu
eskatologi al-Qur'an menyampaikan suatu harapan kuat tentang dijaminnya
keadilan pada hari terakhir; bahwa berakhirnya suatu kehidupan adalah suatu
kenyataan, di mana manusia akan mati, akan bersaksi atas perbuatan-perbuatan
yang telah dilakukan, akan menyadari tujuan hidup yang telah dijalaninya dan
akan diberikan ganjaran atau hukuman.[16]
H. Kadar Kemu'jizatan Al-Qur'an
Al-Qur'an secara terus menerus manantang semua ahli
kesusastraan Arab untuk mencoba manandinginya, tapi tak seorang pun yang mampu
menjawab tantangan Al-Qur'an. Mereka bahkan tak sanggup menirunya karena memang
Al-Qur'an berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli karena ia bukan
kalam manusia (Abdullah, 2011: 129).
Untuk menengarai perdebatan tentang kadar ukuran tentang
seberapa Al-Qur'an dapat dikatakan mu'jizat, dapat diambil jalan tengah bahwa
mu'jizat itu ukurannya dengan surat pendek dalam Al-Qur'an. Artinya bagian dari
Al-Qur'an dapat dikatakan mu'jiz apabila kadarnya tidak kurang dari ukuran
surat pendek yang ada. Sedangkan surah paling pendek adalah surah Al-Kautsar.[17]
I. Berbagai Segi Kemu'jizatan al-Qur'an
Berbagai segi
kemu'jizatan al-Qur'an sampai saat ini tidak ada kesepakatan ulama dalam
menetapkan segi-segi kemu'jizatan al-Qur'an. Namun demikian, diantara segi-segi
yang telah ditemukan dari kemu'jizatan al-Qur'an dapat dikelompokan ke dalam
empat hal, yaitu segi kebahsaan, berita gaib, isyarat ilmiyah, dan tashri'.
1. Segi keabahasaan
Al-Qur'an mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak
dapat ditiru oleh siapa pun. Jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya sangat
indah, uslubnya manis, ayat-ayatnya teratur, dan sangat memperhatikan situasi
dan kondisi dalam berbagai macam gayanya (al-Qattan dalam Kusmana-Syamsuri,
2004: 79). Menurut Muhammad 'Abdullah Darraz, di dalam al-Qur'an banyak
terdapat rahasia kemu'jizatan dari segi bahasa. Hal itu terlihat dari keteraturan
bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya, sewaktu berharkat dan sukun,
mad dan gunnah, fasilah dan maqta', sehingga sangat merdu didengar. Khitab yang
digunakan juga mampu mencakup berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat
intelektualitasnya, mereka dapat memahami kitab itu sesuai dengan tingkat
akalnya, sehingga masing-masing merasa cocok dengan tingkat akal dan sesuai
dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun orang khawas. Bahasa
al-Qur'an dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan
secara seimbang.[18]
Disamping
keistimewaan-keistimewaan tersebut, al-Qur'an juga memiliki ketelitian
redaksional yang luar biasa. Meskipun al-Qur'an diturunkan selama 23 tahun,
dalam situasi dan kondisi serta latar belakang yang berbeda-beda, terkadang ia
diturunkan sebagai jawaban spontan terhadap suatu pertanyaan atau mengomentari
suatu peristiwa, ternyata rangkaian ayat-ayatnya tersusun secara sistematis,
serasi, utuh dan rapi seimbang dalam menggunakan kata-kata (Kusmana-Syamsuri, 2004:
81).
2. Seni Berita Gaib
Di dalam al-Qur'an
banyak ditemukan kisah para Nabi dan umat terdahulu, serta beberapa prediksi
yang baru terjadi setelah sekian lama al-Qur'an diturunkan, bahkan ada yang
terjadi sekarang bahkan yang akan datang. Hal ini menunjukan bahwa al-Qur'an
benar-benar wahyu Alloh subhanhu wa ta'ala Yang Maha Mengetahui
segalanya, yang sudah, sedang, dan akan terjadi. Adanya berita gaib, baik
mengenai hal-hal yang telah terjadi di masa lampau maupun yang akan terjadi di
masa depan, merupakan kemu'jizatan al-Qur'an itu sendiri.[19]
Diantara berita gaib yang telah terjadi di
masa lampau adalah tentang kisah Fir'aun. Dalam surat Yunus dijelaskan jasad
Fir'aun akan diselamatkan setelah ditenggelamkan Alloh di laut merah ketika ia
dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa dan kaumnya, untuk dijadikan pelajaran
bagi orang-orang yang datang kemudian. Tidak seorang pun mengetahui hal
tersebut, karena terjadi sekitar 1200 SM. Pada awal abad XIX, pada tahun 1896,
Ahli purbakala Loret menemukan di lembah raja-raja Luxour Mesir satu mummi,
yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama
Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa. Selanjutnya pada bulan Juli 1908,
Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut Fir'aun
tersebut, dan ternyata jasadnya masih utuh, seperti diberitakan oleh Al-Qur'an
melalui Nabi Muhammad yang ummi itu.[20]
Contoh prediksi
al-Qur'an yang baru terjadi setelah sekian lama ia diturunkan dan yang terjadi
sekarang bahkan juga di masa yang akan datang, adalah kekalahan dan kemenangan
bangsa Romawi melawan Persia (dalam surat Rum/30: 2-4), dan tentang
kerusakan lingkungan akibat ulah manusia (dalam surat Rum/30: 41). Surat
Rum/30 ayat 2-4 ini turun sesudah Persia memperoleh kemenangan dalam
pertempuran melawan Bizantium (Romawi) sekitar tahun 619 M., yaitu setelah
Persia menduduki Damaskus, Jerussalem, dan Aleksandaria pada tahun 613 M, 614
M, dan 619M. Delapan tahun kemudian, yaitu tahun 627 M, kerajaan Bizantium
(Romawi) memukul dan mengalahkan kembali persia.[21]
Pada hari itu kaum muslimin akan bergembira karena bangsa Romawi beragama
Nasrani, yang akidahnya sama dengan umat Islam, yaitu tauhid. Dengan kemenangan
ini umat Islam memperoleh peluang lebih besar untuk mengajak mereka (bangsa
Romawi) memeluk Islam. Dalam surat yang sama, Rum/30 ayat 41 Alloh mengajukan
prediksi tentang kerusakan lingkungan hidup akibat perbuatan manusia yang tidak
bertanggung jawab. Prediksi tersebut benar-benar terbukti, baik sekarang maupun
yang akan datang. Akibat eksploitasi berbagai sumber daya alam yang dilakukan
umat manusia dengan menggunakan teknologi yang semakin canggih tanpa menjaga
keutuhan ekosistemnya, keruskan dan pencemaran lingkungan hidup, baik di darat,
laut, dan bahkan udara semakin terasa (Kusmana-Syamsuri, 2004: 83-84).
3. Segi Isyarat Ilmiah
Banyak isyarat
ilmiah yang dikemukakan di dalam al-Qur'an, yang kesemuanya belum diketahui
manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Isyarat-isyarat
ilmiah tersebut dapat dilihat dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan. Dalam
bidang ilmu pertanian misalnya bisa dilihat pada surat al-Hijr: 22, dan
surat Yaasin: 33-34. Dalam bidang Embriologi pada surat at-Tariq: 5-7, al-'Alaq:
2, dan al-Haj: 5. Dalam bidang antariksa dan ruang angkasa pada surat al-An'am:
125 dan Yaasin: 38. Dalam bidang kelautan pada surat al-Furqan:
53 dan al-Rahman: 19. Dan banyak lagi isyarat-isyarat ilmiah yang
dikemukakan al-Qur'an 14 abad yang lalu, yang baru diketahui manusia pada
abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini.[22]
Al-Qur'an menjadikan pemikiran yang lurus dan
perhatian yang tepat terhadap alam dan segala isinya sebagai sarana untuk
beriman kepada Alloh. Al-Qur'an mendorong kaum muslimin agar memikirkan
mahluk-mahluk Alloh yang ada di langit dan di bumi (QS. Ali Imran:
190-191). Al-Qur'an juga mendorong umat islam agar memikirkan dirinya, bumi
yang ditempatinya dan alam sekitarnya (QS. Ar-Rum: 8; QS. Az-Zariyat:
20-21; QS. Al-Ghashiyah: 17-20). Al-Qur'an membangkitkan pada diri
setiap muslim kesadaran ilmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal
(QS. Al-Baqarah: 219; QS. Al-Hashr: 21; QS. Yunus: 24. QS.
Ar-Ra'd: 3; QS. Al-'Araf: 32; QS. Al-An'am: 97,98,65).
Al-Qur'an juga telah mengangkat derajat orang-orang berilmu, dan memerintahkan
umat Islam agar selalu berusaha dan berdo'a untuk manambah ilmu pengetahuan (QS.
Al-Mujadalah: 11; QS. Az-Zumar: 9; QS. Taha: 114).[23]
Demikianlah
kemu'jizatan al-Qur'an secara ilmiah yang terletak pada dorongannya kepada umat
Islam untuk berpikir di samping membukukan pintu-pintu ilmu pengetahuan bagi
mereka dan mengajak memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu
pengetahuan baru.
4. Segi Tashri'
Sepanjang sejarah
perjalanan umat manusia telah lahir berbagai macam doktrin, pandangan hidup,
sistem dan tashri' (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya
kebahagiaan individu masyarakat. Namun, tidak satu pun dari padanya yang
mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai al-Qur'an dalam
kemu'jizatan tashri' nya. Al-Qur'an memulai tashri' nya dengan
pendidikan individu, karena individu merupakan sendi masyarakat, dengan
menegakkannya di atas penyucian jiwa dan rasa tanggung jawab.[24]
Ibadah-ibadah fardlu misalnya, ini mendidik umat islam untuk menyadari tanggung
jawab individual sebagaimana ditetapkan al-Qur'an dan untuk memikul semua
tugas-tugas agama dan akhlak mulia. Demikian al-Qur'an menanamkan sifat
keutamaan dan ideal dengan melatih jiwa dengan pengontrol agama, seperti sabar,
jujur, adil, santun, maaf, tawaddu, dan sebagainya (Muslim dalam
Kusmana-Syamsuri, 2004: 89).
Dari pendidikan individu, al-Qur'an beralih
kepada pembinaan dan pembangunan keluarga yang merupakan benih masyarakat.
Selanjutnya, al-Qur'an juga memberikan dasar-dasar sistem pemerintahan untuk
mengatur masyarakat Islam. Al-Qur'an telah menetapkan kaidah-kaidah
pemerintahan Islam ini dalam bentuk yang ideal dan baik, yaitu sistem
pemerintahan yang didasarkan pada musyawarah, persamaan dan larangan kekuasaan
individual. Al-Qur'an juga telah menetapkan perlindungan terhadap lima macam
kebutuhan primer bagi kehidupan manusia, jiwa, agama, kehormatan, harta benda,
dan akal. Bahkan al-Qur'an juga telah menetapkan dasar-dasar hubungan
internasional, dalam masa perang maupun damai, antara kaum muslimin dengan
tetangga atau dengan mereka yang mengadakan perjanjian damai. Apa yang
ditetapkan dalam al-Qur'an ini merupakan sistem hubungan yang paling tinggi
yang dikenal pada masa peradaban umat manusia. Ringkasnya, al-Qur'an memiliki tashri'
paripurna yang menegakkan kehidupan manusia dengan konsep yang paling utama,
yang tidak dapat ditandingi oleh tashri' manapun.[25]
J. Aspek-aspek I'jaz Al-Qur'an
Muhammad Ali
Al-Shabuni dalam kitabnya al-Tibyan menyebutkan segi-segi kemu'jizatan
Al-Qur'an sebagai berikut:
1.
Susunannya yang
indah, berbeda dengan susunan yang ada dalam bahasa orang-orang Arab.
2.
Terdapat uslub
yang unik yang berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.
3.
Ia mengandung sifat
mungkin dan membuka peluang bagi seorang makhluk untuk mendatangkan yang
sejenisnya.
4.
Bentuk
undang-undang yang detail lagi sempurna melebihi setiap undang-undang buatan
manusia.
5.
Menggambarkan
hal-hal yang gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu.
6.
Tidak bertentangan
dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang dipastikan kebenarannya.
7.
Menepati janji yang
ada dalam Al-Qur'an.
8.
Mengandung
prinsip-prinsip ilmu pengetahuan di dalamnya.
9.
Berpengaruh kepada
semua pengikut dan musuhnya.
Quraish Shihab
berpendapat bahwa pada garis besarnya mu'jizat Al-Qur'an itu tampak dalam tiga
hal pokok:
1.
Susunan redaksinya
yang mencapai puncak tertinggi dari sastra bahasa Arab.
2.
Kandungan ilmu
pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu yang diisyaratkannya.
3.
Ramalan-ramalan
yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya (Abdullah, 2011:
132-133).
K. Bukti Historis Kegagalan Menandingi Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an disebutkan adanya pernyataan tegas yang
menyatakan tantangan tegas kepada manusia yang meragukan akan kebenarannya
untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an, atau membuat 10 (sepuluh) surat
saja atau bahkan 1 (satu) surat saja.
Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap Al-Qur'an
sebagai wahyu Alloh, Al-Qur'an menantang mereka dengan tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1. Mendatangkan semisal Al-Qur'an
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنْسُ وَاْلجِنُّ عَلىَ أَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ
هذَا اْلقُرْآنِ لاَ يَأْتُوْنَ
بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا (الاسراء: 88)
Artinya: "Katakanlah:
"Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al
Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia,
sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".
(QS. Al-Isra: 88)
2. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang
ada dalam Al-Qur'an
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ
مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ
مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ (هود: 13)
Artinya: " Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah
membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka
datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan
panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu
memang orang-orang yang benar". (QS.Huud: 13)
3. Mendatangkan satu surat
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ
قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهِ وَادْْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ
اللهِ
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
(يونس: 38)
Artinya: " Atau
(patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah:
"(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat
seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk
membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar". (QS.Yunus: 38)
Orang-orang Arab yang pantang ditantang itu ternyata
tidak ada yang sanggup untuk menjawab tantangan Al-Qur'an, jangankan untuk
membuat seluruh Al-Qur'an bahkan satu surat yang pendekpun tidak ada, padahal
pada waktu itu orang-orang Arab memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam
bidang sastra. Dengan demikian terbuktilah kemu'jizatan Al-Qur'an itu (Kamal,
2009: 87).
[12]
(Toshihko Izutsu, Ethico Religious Concepts in the
Qur'an (Montreal: McGIll University Press), 1966, for the ehavior of Arabs
pagans, see I.S.D. Goitein, "Individualism and onformity in Classical
Islam", in Amin Baani and Speros Vryonis Jr. (Eds.), Individualism and
Conformity in Classical Islam, Fifth Giorgio Levi Delaa Vida Beinnal
Conference. (Wiesbaden: Otto arrosowith), 1977: 5-35; Sayyid Abul A'la Maududi,
Towards Understanding Islam, Translated and edited by Khursid Ahmad
(Lahore: Idara Tarjumanul-Qur'an, 1977), h. 39-41) dalam Ibid, hlm. 67.
My Dear Beloved Friends, God Loves You! Why? A New Revelation with the Spirit of Truth is here Today to Help All of us know the Truth about God, Jesus and the Holy Spirit, ( The Urantia Book, Revelation 2:17,Free, Online, in all international Languages, and Guided by Archangel Michael, His Trusted Angels, and the Holy Spirit ).A prayer and Blessing for all Good Loving Believers who Wish to share the Truth about Jesus, The Son of God and the Holy Spirit:
BalasHapusFor all the Children who are Ruined by shame
Mirror child
The image of a precious dove
Dancing barefoot on the beach
Drinking in love and sunshine
full of smiles
never having to die.
Mere child
Dreaming awhile on a school title
Learning to carry books for miles.
Crayons, pencils, stencils
Nothing you need to do but
Sing and carry the wind on
Your wings.
Mirror child
Like daddy or mommy
Carrying so many burdens for
A little person
All the time
Not able
To catch the spies and
Spiders.
Go back to the skies,
Little dove
And play with the eagles who tamed this land
Until you are a spirit so good and pure
That you will truly guide the directions of our
Bloodied hands.
Repent
BalasHapusThe Word means
Resources of Love
From the heart, soul
And goodness of
Human kind,
To Bear Witness
Of the mind of God,
The Sacred Heart of
Jesus, the savior of our world
Who took your sins
Without waste, suffering
Or eternal death.
Believe in the angels
Of mercy,
For there is no darkness
In the Heart of their love for you
And you will save yourselves
From the veil of darkness
That hides from you
The True Love of our Father
God who embraces his Children without fear.
anger or any spiritual regrets.
Repent of your hate,
Jealousy and lust for power,
Turn away from wars,
Killing and material competition
And know that Jesus, our True Messiah,
Will never leave you in times of Trouble
For His Mercy will save you to keep
Your immortal soul.
There is no True Prophecy today except for Revelation 2:17, known as The Urantia Book, free, online, in all international languages, and prepared for You by Arch Angel Michael J. Christ’s Angels, and the voice of God Channeled to you through the voices of True members of the Church of Christ. Blessings to you, Your Families and all the People you Love. In the name of Jesus and the Holy Spirit, Amen.
Giuseppe Antonio Ciano
@GAC8717