Rabu, 15 Oktober 2014

I'JAZ AL-QUR'AN



I'JAZ AL-QUR'AN

A.  Pengertian I'jaz Al-Qur'an
I'jaz menurut bahasa artinya melemahkan. Dan mu'jizat artinya sesuatu yang luar biasa, yang ajaib atau yang menakjubkan. Sedangkan menurut istilah mu'jizat ialah sesuatu yang bernilai sangat tinggi dan bisa mengungguli seluruh masalah yang berkembang, di samping kedatangannya mu'jizat memang sedang ditunggu oleh kaum. (Mutawally dalam Syadali-Ahmad Rofi'i, 1997: 9).
Drs. H. Mustopa Kamal, M. Pd. Menuliskan dalam bukunya "Buku Dars Ulumul Qur'an" kata I'jaz merupakan bentuk mashdar yang diambil dari fi'il madliya "a'jaza" yang berarti menetapkan kelemahan (Itsbat al-'ajz). Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, sebagai lawan dari kemampuan (al-qudrah). Apabila kemu'jizatan telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mu'jiz (sesuatu yang melemahkan).[1]


Yang dimaksud denga I'jaz dalam pembicaraan di sini (menurut istilah) adalah menempakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagi seorang Rasul, dengan menampakkan kelemahan orang-orang Arab untuk menghadapi mu'jizatnya yang abadi (yaitu Al-Qur'an), dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. (Manna Qathan: 258-259 dalam Kamal, 2009: 85).
Mu'jizat itu hanya diberikan oleh Alloh kepada para Nabi atau Rasul Alloh untuk menumbangkan kepercayaan manusia yang telah mempertuhankan selain Alloh subhanahu wa ta'ala. Mu'jizat yang ada pada Nabi Muhammad sollallohu 'alaihi wasallam berupa Al-Qur'an jelas berbeda dengan mu'jizat para Rasul sebelumnya. I'jaz al-Qur'an (kemu'jizatan al-Qur'an) melebihi segalanya dibanding dengan apa yang sedang mereka banggakan. Dan keutamaan mu'jizat al-Qur'an ini bukan hanya ditunjukan kepada bangsa Arab, namun al-Qur'an dengan keutamaan mu'jizatnya itu diperuntukan kepada seluruh alam.[2]
B. Dasar dan Urgensi Pembahasan
Menurut Dr. Subhi Shaleh, bahwa orang yang pertama menulis I'jazul Qur'an adalah Imam Al-Jahid dengan bukunya "Nudlumul Qur'an" kemudian Muhammad bin Zaid Al-Wasithi dengan bukunya "I'jazul Qur'an", kemudian Imam Ar-Rumani dengan bukunya "I'jaz", kemudian Al-Qadi Abu Bakar Al-Baqilani dengan bukunya "I'jazul Qur'an" dan Abd. Qadir Al-Jurjani dengan bukunya "Balailul 'I'jaz dan Balagah". Dan menurut pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menulis I'jazul Qur'an ialah Abu Ubaidah dengan kitab "Majazul Qur'an", kemudain Al-Farra dengan kitabnya: "Ma'anil Qur'an" dan Ibnu Qutaibah dengan kitabnya "Ta'wilu Musykilul Qur'an."
Disamping untuk menumbuhakan keyakinan pada manusia bahwa Al-Qur'an betul-betul wahyu dari Alloh, I'jazul al-Qur'an juga merupakan bukti kebenaran Muhammad sebagai Rasul Alloh. I'jaz al-Qur'an memiliki beberapa tujuan:[3]
1.    Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad sollallohu 'alaihi wasallam.
2.    Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Qur'an benar-benar merupakan wahyu dari Alloh.
3.    Untuk menunjukan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia.
4.    Untuk menunjukan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia.
  
C. Macam-Macam Mu'jizat
Secara garis besar Mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad dan Nabi-nabi pendahulunya dapat digolongkan ke dalam dua jenis, ya'ni: mu'jizat hissi dan mu'jizat maknawi ('aqliyah).[4] Adapun mu'jizat hissi yaitu mu'jizat yang dapat dilihat secara kasat mata, didengar oleh telinga dirasa dan ditangkap oleh panca indra. Mu'jizat semacam ini adalah mu'jizat yang berlaku secara temporal sesuai dengan kebutuhan. Mu'jizat Nabi-nabi terdahulu semuanya masuk pada tipe yang pertama ini. Sedangkan maknawi adalah mu'jizat yang tidak dapat dicapai dengan kekuatan panca indra semata, tetapi dicapai dengan kekuatan dan kecerdasan akal pikiran. Hanya orang-orang yang mempunyai akal sehat dan kecerdasan yang tinggi, mempunyai hati nurani serta berbudi luhur sajalah yang mampu menagkap dan memahami kebesaran mu'jizat model ini.[5]  
Kedua jenis mu'jizat ini diberikan kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur'an mengandung keduanya. Bahkan yang maknawi ('aqli) jauh lebih besar porsinya dibandingkan dengan hissi. Sebab Al-Qur'an memang dipersiapkan untuk menghadapi dan mengantisipasi serta mengendalikan segala zaman, sebagai konsekuensi dari proses kenabian dan kerasulan yang terhenti dan Muhammad sebagai khatam an-nabiyyin (Abdullah, 2011: 127).

D. Pendapat Ulama tentang I'jaz al-Qur'an
Para ulama sepakat bahwa kemu'jizatan Al-Qur'am itu karena dzatnya, serta tidak seorangpun yang sanggup mendatangkan sesuatu sebanding dengannya. Tetapi sebagian mereka berbeda-beda dalam hal meninjau segi kemu'jizatan Al-Qur'an. Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemu'jizatannya adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur'an itu sendiri, yaitu segi nadzamnya yang asing yang berbeda dengan susunan orang Arab pada umumnya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemu'jizatannya itu terkandung dalam lafadz-lafadznya yang jelas, redaksinya yang mengandung sastra tingkat tinggi. Juga karena Al-Qur'an terhindar dari adanya pertentangan, serta mengandung makna-makna yang mendalam. Hal lainnya yaitu karena adanya keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-keindahan yang menarik yang terkandung dalam Al-Qur'an, baik permulaan, tujuan, maupun dalam menutup setiap surat.[6]
Paham Sharfah yang dikemukakan Al-Syarif al-Murtadha berpendapat bahwa Al-Qur'an itu mu'jiz bi al-sharfah. Maksudnya, Alloh subhanahu wa ta'ala memalingkan hamba-hamba-Nya dengan menarik kehendak mereka dan mengeluhkan lidah-lidah mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an. Paham ini mengatakan seandainya jika proses memalingkan tidak ada maka manusia akan mampu membuat yang semisal dengannya. Sementara paham ini ditolak oleh al-Khatib, beliau mengatakan bahwa al-sharfah merupakan hal yang tidak begitu berbeda dengan I'jaz, hanya saja petunjuk ayat menunjukan sebaliknya (Abdullah, 2011: 129).
Berikut ini beberapa Ulama berpendapat tentang segi-segi kemu'jizatan Al-Qur'an:[7]
1.    Menurut AL-Jahid, Al-Jurzani, dan Abd. Qahir Al-Jurzani, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an hanya pada susunan lafal-lafalnya saja.
2.    Menurut Muh. Ismail Ibrahim, Az-Zamakhsyari dan Fahrur Razi, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an hanya pada keilmiahannya saja.
3.    Menurut Imam Qurtubi, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an karena uslubnya lain dari yang lain, susunannya indah, adanya berita kejadian-kejadian yang akan terjadi dan lain sebagainya.
4.    Menurut Az-Zarqani, bahwa kemu'jizatan Al-Qur'an ada pada keindahan bahasa dan uslub-uslubnya, berisi beberapa ilmu pengetahuan, memenuhi semua hajat manusia, adanya berita gaib dan lain-lainnya.

E. Konsep Mu'jizat al-Qur'an Menurut Muhammad Arkoun
Arkoun adalah sarjana Muslim pertama dalam sejarah penafsiran al-Qur'an yang telah mengangkat isu krusial tentang pembacaan teks menurut epistemologi baru yang diperkenalkan oleh linguistik dan semiotik modern. Arkoun menyatakan kekagumannya terhadap materi gramatikal dan perkamusan yang dikumpulkan oleh para penafsir klasik. Arkoun mengajukan dua pendekatan dalam merekomendasikan sistem pengertian yang menguasai hubungan antara persepsi dan kata hati dalam al-Qur'an. Seperti pendekatan leksikal dan sastra. Arkoun mengelompokan kata-kata di dalam al-Qur'an untuk berbagai fungsi dan membaginya ke dalam kosa kata yang berbeda-beda. Selanjutnya dia mengambil pelajaran dari kata-kata yang mempunyai hubungan antara persepsi dan kata hati.
Arkoun mengemukakan bagi para pengikut, keajaiban adalah perwujudan dari superior, transenden, alasan yang tak dapat diduga.  Oleh karena itu ia memiliki fungsi kognitif. Inilah keindahan dan kekayaan kata dan merupakan nilai keajaiban sebuah penciptaan yang mengijinkan manusia untuk bisa merasakan eksistensi Tuhan, sang pencipta. Kita melihat bagaimana al-Qur'an membangun hubungan antara persepsi dan kata hati yang didasarkan pada penerimaan keajaiban bagi mereka yang tidak percaya, pada suatu abad, keajaiban hanya merupakan konsesi temporal dari sebuah ekspresi imajinasi.
Menurutnya, perdebatan tentang keajaiban sebagai "merveilles de la creation" perlu ditinjau dari dua persepektif yang saling melengkapi:[8]
1.         Masyarakat bisa mendiskusikan al-Qur'an sebagai tempat proyeksi iman, atau sebagai kemungkinan ideal nurani Muslim yang secara tradisional sudah dipengaruhi oleh tekanan psikocultular. Wacana al-Qur'an telah mengungkapkan dalam produknya sebuah kekuatan perluasan dalam menciptakan imajinasi.
2.         Persepektif yang kedua yang tercakup dalam pengetahuan Muslim yang memiliki linguistik yang secara tepat merasa berbohong dalam "meniadakan kebiasaan (naqad al-'ada) yang digambarkan dalam al-Qur'an.
Menurut Arkoun tidak mungkin berbicara keajaiban al-Qur'an kecuali kalau kita meninggalkan semua definisi yang membatasi. Tidak ada yang tidak beralasan dalam keajaiban yang terdapat di dalam kitab Tuhan; ia hadir untuk sebuah tujuan, misal, untuk memerintahkan (Arkoun dalam Kusmana-Syamsuri, 2004: 106).

F. Al-Zamakhsari dan Sifat Alamiyah al-Qur'an yang menakjubkan.
I'jaz Qur'an, menurut al-Zamakhsari, haruslah berupa nazm, Nazm seharusnya dianggap sebagai induk al-Qur'an. Nazm bisa dilihat dalam bentuk keindahan redaksi dalam penyusunan prase dan selektifitas kata yang tinggi dalam pewahyuannya. Lebih dari itu, dia juga mengikuti aksioma aturan gramatikal. Metode ini dipraktekan oleh al-Zamakhsari dalam menjelaskan al-Qur'an dari aspek estetika (al-Juwainy dalam Kusmana-Syamsuri, 2004: 142).
Dalam kitabnya, al-Zamakhsari memberikan beberapa contoh dengan menunjukan gaya bahasa kitab al-Qur'an yang tinggi. Diantaranya seperti yang digambarkan oleh al-Zamakhsari tentang contoh gaya i'jaz dalam ayat yang berbunyi: hudan li al-muttaqin ("petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"). Komentar al-Zamakhsari terhadap ayat ini diberikan dalam bentuk dialog sebagai berikut: jika kamu mengatakan, mengapa tuhan tidak berbicara tentang petunjuk kepada mereka yang tersesat. Saya mengatakan, karena mereka yang tersesat dibagi menjadi dua golongan. Pertama, kelompok yang diketahui memilih pembaharuan terhadap sikap mental, kelakuan, pandangan mereka untuk mendapatkan petunjuk yang benar. Dengan kata lain, petunjuk bukanlah tujuan untuk mereka yang tersesat dalam arti bahwa mereka akan tetap dalam kesesatannya. Sementara mereka yang ingin merubah siakap mereka bisa dikategorikan kedalam kelompok yang mencari petunjuk Tuhan.[9]
Disamping nazm untuk membuktikan i'jaz al-Qur'an, al-Zamakhsari juga menyebutkan aspek informasi yang tidak diketahui (misterius), dia menjelaskan dua ayat ini QS. Al-Baqarah: 94-95 ("katakanlah: katakanlah jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu disisi Alloh, bukan untuk orang lain, maka inginlaj kematian (mu) jika kamu memang benar. Tetapi mereka tidak akan mengingini kematian itu selamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri"). Dua ayat ini mengandung keajaiban karena mereka memiliki berita misterius, sebagaimana Tuhan berfirman bahwa mereka tidak akan melaksanakannya (lan taf'alu) dan ayat berikutnya dalam QS. al-Hijr: 91 ("siapa yang telah memecah-belah al-Qur'an kedalam beberapa penggalan"). Sesuatu disebut i'jaz selama ayat memberikan informasi tentang apa yang akan terjadi (Kusmana-Syamsuri, 2004: 144-145).
Kesimpulan, deskripsi yang dipaparkan oleh al-Zamakhsari mengenai penafsiran al-Qur'an tidak hanya mengungkap arti yang terkandung di dalamnya, tetapi dia juga menyingkap rahasia i'jaz al-Qur'an. Metode yang ia gunakan dalam menjelaskannya adalah dengan menggunakan teori-teori ulama terdahulu yang disarikan dalam metode nazm. Dengan nazm, kata, arti dan aksioma peraturan grammar disusun secara rapi yang kemudian mewujud menjadi keindahan terakhir yang bukan tiruan, dengan komposisi tinggi, gaya bahasa yang sempurna, dan memiliki kedalaman arti.[10]
                
G. I'jaz Al-Qur'an Dalam Konsep Eskatologi Al-Qur'an
I'jaz al-Qur'an adalah konsep yang menakjubkan dari al-Qur'an, dipercayai bahwa al-Qur'an adalah mu'jizat Muhammad. Selagi i'jaz al-Qur'an berarti ketidak dapat ditiruan atau keunikan Qur'an yaitu keperayaan bahwa al-Qur'an tidak dapat ditiru (Nanang Tahqiq dalam Kusmana-Symsuri, 2004: 65). Banyak para penulis melewatkan fakta bahwa Qur'an adalah sumber bimbingan yang sangat mendasar untuk orang islam. Para penulis ini mempertimbangkannya semata-mata dalam kaitan dengan gaya puitisnya. Sesungguhnya al-Qur'an bukanlah puisi meskipun demikian muatannya puitisi.[11]
Al-Qur'an memberikan suatu perasaan positif terhadap kata-kata, yang sebelumnya digunakan secara negatif. Sebagai contoh, arti dari istilah "kerendahan hati" yang dianggap oleh Arab penyembah berhala sebagai sikap negatif yang telah diperluas oleh al-Qur'an dan memberikan suatu isi positif. Sebaliknya, al-Qur'an mengubah hal positif perasaan positif kata-kata tertentu dan memberinya suatu konotasi negatif. Sebagai contoh, konotasi positif pada kata "politheisme" diganti dengan sesuatu yang negatif oleh-oleh al-Qur'an.[12] Ini adalah alasan dasar mengapa Muhammad terkejut dan demam ketika ia menerima wahyu itu. Seperti kondisi psikologis telah pasti bukan merupakan hasil "berat/beban" tentang wahyu dalam terminologi psikis, tetapi lebih pada persepsi Nabi tentang pokok materi wahyu yang bertentangan dan mencoba untuk merubah tradisi Arab. Sebagai contoh, ayat yang pertama, yang diungkapkan adalah al-'Alaq adalah benih Sel: 1, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan".[13] Muhammad terkejut dan merasa demam ketika ayat ini diungkapkan. Ia merasakan seperti itu karena ia telah berhubungan dengan sesuatu yang diluar imajinasinya (Kusmana-Syamsuri, 2004: 67).
Lebih dari itu, Al-Qur'an berisi kata-kata dari beberapa bahasa meskipun demikian arti dari ayat-ayat dimana mereka terjadi masih dengan mudah dapat dimengerti. Kata-kata dari Etiopia, Persia, Yunani, India, Shiria, Ibrani, Nabatean, Coptic, Turki, Negro, Berber terjadi di dalam al-Qur'an ini. Unsur-unsur asing dalam kosa kata al-Qur'an dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, kata-kata yang kesemuanya bukan bahasa Arab dan tidak dimungkinkan ditemukan dalam akar-akar bahasa Arab, e.g. istabraq (kain brokat sutera), zanjabil (jahe), firdaus (surga). Kedua, Kata-kata Semit yang terjadi pada al-Qur'an dalam beberapa hal digunakan dalam bahasa yang lain tetapi bukan dalam bahasa Arab, meskipun demikian akar kata yang segitiga mereka ditemukan dalam bahasa Arab, e.g. fatir (pencipta), sawami' (biara), darasa (belajar [kitab injil] dengan jelas). Ketiga, kata-kata asli bahasa Arab dan yang biasanya digunakan, tetapi hal tersebut digunakan di dalam al-Qur'an dengan maksud/arti teknis atau dalam pengertian teknologi yang dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain, e.g. nur (cahaya) yang digunakan dalam pengertian agama, ruh (roh) dan terutama ruh al-quds (roh Kekudusan), kalimah (suatu kata) ketika digunakan untuk Yesus.[14]  
Ilmu eskatologi al-Qur'an menunjukan pengetian yang begitu banyak seperti Yawm al-Din (hari penghakiman), al-Yawm al-Akhiir (hari akhir), Yawm al-Qiyamah (hari kebangkitan atau hari kiamat), al-sa'ah (waktu), Yawm al-Fasl (hari pembedaan), ketika yang baik dipisahkan dari yang jelek, Yawm al-Jam' (hari pengumpulan, manusia kepada kehadiran Tuhan), atau Yawm at-Talaqi (hari peretmuan, manusia dengan Tuhan).[15] Salah satu corak yang penting dari ilmu eskatologi ini adalah bahwa baik hidup maupun dunia fana, dan bahwa keduanya secara pasti, dan segera, datang "kepada suatu akhir (Kusmana-Syamsuri, 2004: 69).
Ilmu eskatologi al-Qur'an menyampaikan suatu harapan kuat tentang dijaminnya keadilan pada hari terakhir; bahwa berakhirnya suatu kehidupan adalah suatu kenyataan, di mana manusia akan mati, akan bersaksi atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, akan menyadari tujuan hidup yang telah dijalaninya dan akan diberikan ganjaran atau hukuman.[16]

H. Kadar Kemu'jizatan Al-Qur'an
Al-Qur'an secara terus menerus manantang semua ahli kesusastraan Arab untuk mencoba manandinginya, tapi tak seorang pun yang mampu menjawab tantangan Al-Qur'an. Mereka bahkan tak sanggup menirunya karena memang Al-Qur'an berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli karena ia bukan kalam manusia (Abdullah, 2011: 129).
Untuk menengarai perdebatan tentang kadar ukuran tentang seberapa Al-Qur'an dapat dikatakan mu'jizat, dapat diambil jalan tengah bahwa mu'jizat itu ukurannya dengan surat pendek dalam Al-Qur'an. Artinya bagian dari Al-Qur'an dapat dikatakan mu'jiz apabila kadarnya tidak kurang dari ukuran surat pendek yang ada. Sedangkan surah paling pendek adalah surah Al-Kautsar.[17]

I. Berbagai Segi Kemu'jizatan al-Qur'an
Berbagai segi kemu'jizatan al-Qur'an sampai saat ini tidak ada kesepakatan ulama dalam menetapkan segi-segi kemu'jizatan al-Qur'an. Namun demikian, diantara segi-segi yang telah ditemukan dari kemu'jizatan al-Qur'an dapat dikelompokan ke dalam empat hal, yaitu segi kebahsaan, berita gaib, isyarat ilmiyah, dan tashri'.
1.      Segi keabahasaan
Al-Qur'an mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun. Jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya sangat indah, uslubnya manis, ayat-ayatnya teratur, dan sangat memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam gayanya (al-Qattan dalam Kusmana-Syamsuri, 2004: 79). Menurut Muhammad 'Abdullah Darraz, di dalam al-Qur'an banyak terdapat rahasia kemu'jizatan dari segi bahasa. Hal itu terlihat dari keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya, sewaktu berharkat dan sukun, mad dan gunnah, fasilah dan maqta', sehingga sangat merdu didengar. Khitab yang digunakan juga mampu mencakup berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat intelektualitasnya, mereka dapat memahami kitab itu sesuai dengan tingkat akalnya, sehingga masing-masing merasa cocok dengan tingkat akal dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun orang khawas. Bahasa al-Qur'an dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan secara seimbang.[18]
Disamping keistimewaan-keistimewaan tersebut, al-Qur'an juga memiliki ketelitian redaksional yang luar biasa. Meskipun al-Qur'an diturunkan selama 23 tahun, dalam situasi dan kondisi serta latar belakang yang berbeda-beda, terkadang ia diturunkan sebagai jawaban spontan terhadap suatu pertanyaan atau mengomentari suatu peristiwa, ternyata rangkaian ayat-ayatnya tersusun secara sistematis, serasi, utuh dan rapi seimbang dalam menggunakan kata-kata (Kusmana-Syamsuri, 2004: 81).
2.      Seni Berita Gaib
Di dalam al-Qur'an banyak ditemukan kisah para Nabi dan umat terdahulu, serta beberapa prediksi yang baru terjadi setelah sekian lama al-Qur'an diturunkan, bahkan ada yang terjadi sekarang bahkan yang akan datang. Hal ini menunjukan bahwa al-Qur'an benar-benar wahyu Alloh subhanhu wa ta'ala Yang Maha Mengetahui segalanya, yang sudah, sedang, dan akan terjadi. Adanya berita gaib, baik mengenai hal-hal yang telah terjadi di masa lampau maupun yang akan terjadi di masa depan, merupakan kemu'jizatan al-Qur'an itu sendiri.[19]
 Diantara berita gaib yang telah terjadi di masa lampau adalah tentang kisah Fir'aun. Dalam surat Yunus dijelaskan jasad Fir'aun akan diselamatkan setelah ditenggelamkan Alloh di laut merah ketika ia dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa dan kaumnya, untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian. Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena terjadi sekitar 1200 SM. Pada awal abad XIX, pada tahun 1896, Ahli purbakala Loret menemukan di lembah raja-raja Luxour Mesir satu mummi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa. Selanjutnya pada bulan Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut Fir'aun tersebut, dan ternyata jasadnya masih utuh, seperti diberitakan oleh Al-Qur'an melalui Nabi Muhammad yang ummi itu.[20]
Contoh prediksi al-Qur'an yang baru terjadi setelah sekian lama ia diturunkan dan yang terjadi sekarang bahkan juga di masa yang akan datang, adalah kekalahan dan kemenangan bangsa Romawi melawan Persia (dalam surat Rum/30: 2-4), dan tentang kerusakan lingkungan akibat ulah manusia (dalam surat Rum/30: 41). Surat Rum/30 ayat 2-4 ini turun sesudah Persia memperoleh kemenangan dalam pertempuran melawan Bizantium (Romawi) sekitar tahun 619 M., yaitu setelah Persia menduduki Damaskus, Jerussalem, dan Aleksandaria pada tahun 613 M, 614 M, dan 619M. Delapan tahun kemudian, yaitu tahun 627 M, kerajaan Bizantium (Romawi) memukul dan mengalahkan kembali persia.[21] Pada hari itu kaum muslimin akan bergembira karena bangsa Romawi beragama Nasrani, yang akidahnya sama dengan umat Islam, yaitu tauhid. Dengan kemenangan ini umat Islam memperoleh peluang lebih besar untuk mengajak mereka (bangsa Romawi) memeluk Islam. Dalam surat yang sama, Rum/30 ayat 41 Alloh mengajukan prediksi tentang kerusakan lingkungan hidup akibat perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Prediksi tersebut benar-benar terbukti, baik sekarang maupun yang akan datang. Akibat eksploitasi berbagai sumber daya alam yang dilakukan umat manusia dengan menggunakan teknologi yang semakin canggih tanpa menjaga keutuhan ekosistemnya, keruskan dan pencemaran lingkungan hidup, baik di darat, laut, dan bahkan udara semakin terasa (Kusmana-Syamsuri, 2004: 83-84).
3.      Segi Isyarat Ilmiah
Banyak isyarat ilmiah yang dikemukakan di dalam al-Qur'an, yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Isyarat-isyarat ilmiah tersebut dapat dilihat dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu pertanian misalnya bisa dilihat pada surat al-Hijr: 22, dan surat Yaasin: 33-34. Dalam bidang Embriologi pada surat at-Tariq: 5-7, al-'Alaq: 2, dan al-Haj: 5. Dalam bidang antariksa dan ruang angkasa pada surat al-An'am: 125 dan Yaasin: 38. Dalam bidang kelautan pada surat al-Furqan: 53 dan al-Rahman: 19. Dan banyak lagi isyarat-isyarat ilmiah yang dikemukakan al-Qur'an 14 abad yang lalu, yang baru diketahui manusia pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini.[22] 
 Al-Qur'an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala isinya sebagai sarana untuk beriman kepada Alloh. Al-Qur'an mendorong kaum muslimin agar memikirkan mahluk-mahluk Alloh yang ada di langit dan di bumi (QS. Ali Imran: 190-191). Al-Qur'an juga mendorong umat islam agar memikirkan dirinya, bumi yang ditempatinya dan alam sekitarnya (QS. Ar-Rum: 8; QS. Az-Zariyat: 20-21; QS. Al-Ghashiyah: 17-20). Al-Qur'an membangkitkan pada diri setiap muslim kesadaran ilmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal (QS. Al-Baqarah: 219; QS. Al-Hashr: 21; QS. Yunus: 24. QS. Ar-Ra'd: 3; QS. Al-'Araf: 32; QS. Al-An'am: 97,98,65). Al-Qur'an juga telah mengangkat derajat orang-orang berilmu, dan memerintahkan umat Islam agar selalu berusaha dan berdo'a untuk manambah ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah: 11; QS. Az-Zumar: 9; QS. Taha: 114).[23]
Demikianlah kemu'jizatan al-Qur'an secara ilmiah yang terletak pada dorongannya kepada umat Islam untuk berpikir di samping membukukan pintu-pintu ilmu pengetahuan bagi mereka dan mengajak memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru.
4.      Segi Tashri'
Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia telah lahir berbagai macam doktrin, pandangan hidup, sistem dan tashri' (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu masyarakat. Namun, tidak satu pun dari padanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai al-Qur'an dalam kemu'jizatan tashri' nya. Al-Qur'an memulai tashri' nya dengan pendidikan individu, karena individu merupakan sendi masyarakat, dengan menegakkannya di atas penyucian jiwa dan rasa tanggung jawab.[24] Ibadah-ibadah fardlu misalnya, ini mendidik umat islam untuk menyadari tanggung jawab individual sebagaimana ditetapkan al-Qur'an dan untuk memikul semua tugas-tugas agama dan akhlak mulia. Demikian al-Qur'an menanamkan sifat keutamaan dan ideal dengan melatih jiwa dengan pengontrol agama, seperti sabar, jujur, adil, santun, maaf, tawaddu, dan sebagainya (Muslim dalam Kusmana-Syamsuri, 2004: 89).
 Dari pendidikan individu, al-Qur'an beralih kepada pembinaan dan pembangunan keluarga yang merupakan benih masyarakat. Selanjutnya, al-Qur'an juga memberikan dasar-dasar sistem pemerintahan untuk mengatur masyarakat Islam. Al-Qur'an telah menetapkan kaidah-kaidah pemerintahan Islam ini dalam bentuk yang ideal dan baik, yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada musyawarah, persamaan dan larangan kekuasaan individual. Al-Qur'an juga telah menetapkan perlindungan terhadap lima macam kebutuhan primer bagi kehidupan manusia, jiwa, agama, kehormatan, harta benda, dan akal. Bahkan al-Qur'an juga telah menetapkan dasar-dasar hubungan internasional, dalam masa perang maupun damai, antara kaum muslimin dengan tetangga atau dengan mereka yang mengadakan perjanjian damai. Apa yang ditetapkan dalam al-Qur'an ini merupakan sistem hubungan yang paling tinggi yang dikenal pada masa peradaban umat manusia. Ringkasnya, al-Qur'an memiliki tashri' paripurna yang menegakkan kehidupan manusia dengan konsep yang paling utama, yang tidak dapat ditandingi oleh tashri' manapun.[25]

J. Aspek-aspek I'jaz Al-Qur'an
Muhammad Ali Al-Shabuni dalam kitabnya al-Tibyan menyebutkan segi-segi kemu'jizatan Al-Qur'an sebagai berikut:
1.      Susunannya yang indah, berbeda dengan susunan yang ada dalam bahasa orang-orang Arab.
2.      Terdapat uslub yang unik yang berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.
3.      Ia mengandung sifat mungkin dan membuka peluang bagi seorang makhluk untuk mendatangkan yang sejenisnya.
4.      Bentuk undang-undang yang detail lagi sempurna melebihi setiap undang-undang buatan manusia.
5.      Menggambarkan hal-hal yang gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu.
6.      Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang dipastikan kebenarannya.
7.      Menepati janji yang ada dalam Al-Qur'an.
8.      Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan di dalamnya.
9.      Berpengaruh kepada semua pengikut dan musuhnya.
Quraish Shihab berpendapat bahwa pada garis besarnya mu'jizat Al-Qur'an itu tampak dalam tiga hal pokok:
1.        Susunan redaksinya yang mencapai puncak tertinggi dari sastra bahasa Arab.
2.        Kandungan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu yang diisyaratkannya.
3.        Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya (Abdullah, 2011: 132-133).

K. Bukti Historis Kegagalan Menandingi Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an disebutkan adanya pernyataan tegas yang menyatakan tantangan tegas kepada manusia yang meragukan akan kebenarannya untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an, atau membuat 10 (sepuluh) surat saja atau bahkan 1 (satu) surat saja.
Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap Al-Qur'an sebagai wahyu Alloh, Al-Qur'an menantang mereka dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.    Mendatangkan semisal Al-Qur'an
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنْسُ وَاْلجِنُّ عَلىَ أَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هذَا اْلقُرْآنِ لاَ يَأْتُوْنَ
بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا (الاسراء: 88)
Artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al-Isra: 88)
2.    Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Qur'an
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ
مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ (هود: 13)
Artinya: " Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS.Huud: 13)
3.    Mendatangkan satu surat
Firman Alloh subhanahu wa ta'ala:
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهِ وَادْْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللهِ
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ (يونس: 38)
Artinya: " Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar". (QS.Yunus: 38)
Orang-orang Arab yang pantang ditantang itu ternyata tidak ada yang sanggup untuk menjawab tantangan Al-Qur'an, jangankan untuk membuat seluruh Al-Qur'an bahkan satu surat yang pendekpun tidak ada, padahal pada waktu itu orang-orang Arab memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam bidang sastra. Dengan demikian terbuktilah kemu'jizatan Al-Qur'an itu (Kamal, 2009: 87).


                [1]Drs. H. Mustopa Kamal, M.Pd, Buku Dars Ulumul Qur'an: untuk lingkungan sendiri (Ciamis: Institut Agama Islam Darussalam, 2009), hlm. 85.
                [2]Drs. H. Ahmad Syadali, M.A. – Drs. H. Ahmad Rofi'i, Ulumul Quran II: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, cet. I., 1997). hlm. 9-10.
                [3] Ibid, hlm. 10-11.
                [4] (Muhammad Ibn 'Alawi, Zubdah al-Itqan fi 'Ulumi al-Qur'an (Makkah al-Mukarramah: Dar al-Syuruq, 1983) h. 118) dalam Mawardi Abdullah, Ulumul Qur'an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011). hlm. 126.
                [5](Munawar Khalil, Al-Qur'an dari Masa ke Masa, (Surabaya: Bina Ilmu, 1985) h. 59-60.) dalam Ibid,  hlm. 127.
                [6] Ibid, hlm. 128.
                [7] Drs. H. Ahmad Syadali, M.A. – Drs. H. Ahmad Rofi'i, Ulumul Quran II: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, cet. I., 1997). hlm. 20.
                [8](Mohammed Arkoun, lectures du coran, 100. Lihat Al-Baqillani, i'jaz al-Qur'an, 35-36 (edisi, 1963) dalam  Drs. Kusmana, M.A. – Drs. Syamsuri M.A., Pengantar Kajian Al-Qur'an: Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, th. 2004), hlm. 104., 110.
                [9] (Al-Zamakhsari, al-Kashshaf, I, h. 26.) dalam Ibid, hlm 143-144., 146.
                [10] Ibid, hlm. 145.
                [11]  Ibid, hlm. 66.
                [12] (Toshihko Izutsu, Ethico Religious Concepts in the Qur'an (Montreal: McGIll University Press), 1966, for the ehavior of Arabs pagans, see I.S.D. Goitein, "Individualism and onformity in Classical Islam", in Amin Baani and Speros Vryonis Jr. (Eds.), Individualism and Conformity in Classical Islam, Fifth Giorgio Levi Delaa Vida Beinnal Conference. (Wiesbaden: Otto arrosowith), 1977: 5-35; Sayyid Abul A'la Maududi, Towards Understanding Islam, Translated and edited by Khursid Ahmad (Lahore: Idara Tarjumanul-Qur'an, 1977), h. 39-41) dalam Ibid, hlm. 67.
                [13] (Translation of Muhammad  Asad, The Message of the Qur'an, (Gibraltar: Dar al-Andalus, 1984), h.963.) dalam Ibid, hlm. 67.
                [14] (A.T. Welch, "Al-Kur'an", in E. Bosworth, E. Van Donzel, B. Lewis and Ch. Pellat (Eds.), The Encyclopedia of Islam, New Edition, Vol. V, (Leiden: E.J. Brill, 1986), h. 419.) dalam Ibid, hlm. 67-68., 75
                [15] (W. Montgomery Watt & R. Bell, Introduction to the Qur'an, (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1970), h. 159.) dalam Ibid, hlm.69., 75.
                [16] Ibid, hlm. 71.
                [17] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur'an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011). hlm. 130.
                [18] (Muhammad  'Abdullah Darraz, al-Naba' al-'Azim, sebagaimana dikutip oleh Manna' al-Qattan, op. cit., h.267-268) dalam Drs. Kusmana, M.A. – Drs. Syamsuri M.A., Pengantar Kajian Al-Qur'an: Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, th. 2004), hlm. 79-80., 93.
                [19] Ibid, hlm. 82-83.
                [20] (M. Quraish Shihab, loc. Cit, lihat pula Harun Nasution (ed.), Ensiklopedi Islam Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1992, h. 250-251) dalam Ibid, hlm. 83., 93.
                [21] (Harun Nasution, Falsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1979, h.24) dalam Ibid, hlm. 84., 93.
                [22] Ibid, hlm. 85-86.
                [23] Ibid, hlm. 87.
                [24] (Manna' al-Qattan, op. cit., h. 267) dalam Ibid, hlm. 87-88., 93.
                [25] Ibid, hlm. 90-91.

2 komentar:

  1. My Dear Beloved Friends, God Loves You! Why? A New Revelation with the Spirit of Truth is here Today to Help All of us know the Truth about God, Jesus and the Holy Spirit, ( The Urantia Book, Revelation 2:17,Free, Online, in all international Languages, and Guided by Archangel Michael, His Trusted Angels, and the Holy Spirit ).A prayer and Blessing for all Good Loving Believers who Wish to share the Truth about Jesus, The Son of God and the Holy Spirit:

    For all the Children who are Ruined by shame


    Mirror child

    The image of a precious dove
    Dancing barefoot on the beach
    Drinking in love and sunshine
    full of smiles
    never having to die.

    Mere child

    Dreaming awhile on a school title
    Learning to carry books for miles.

    Crayons, pencils, stencils
    Nothing you need to do but
    Sing and carry the wind on
    Your wings.

    Mirror child

    Like daddy or mommy
    Carrying so many burdens for
    A little person
    All the time

    Not able
    To catch the spies and
    Spiders.

    Go back to the skies,
    Little dove

    And play with the eagles who tamed this land
    Until you are a spirit so good and pure
    That you will truly guide the directions of our
    Bloodied hands.



    BalasHapus
  2. Repent

    The Word means
    Resources of Love
    From the heart, soul
    And goodness of
    Human kind,

    To Bear Witness
    Of the mind of God,
    The Sacred Heart of
    Jesus, the savior of our world
    Who took your sins
    Without waste, suffering
    Or eternal death.

    Believe in the angels
    Of mercy,
    For there is no darkness
    In the Heart of their love for you
    And you will save yourselves
    From the veil of darkness
    That hides from you
    The True Love of our Father
    God who embraces his Children without fear.
    anger or any spiritual regrets.

    Repent of your hate,
    Jealousy and lust for power,
    Turn away from wars,
    Killing and material competition
    And know that Jesus, our True Messiah,
    Will never leave you in times of Trouble
    For His Mercy will save you to keep
    Your immortal soul.

    There is no True Prophecy today except for Revelation 2:17, known as The Urantia Book, free, online, in all international languages, and prepared for You by Arch Angel Michael J. Christ’s Angels, and the voice of God Channeled to you through the voices of True members of the Church of Christ. Blessings to you, Your Families and all the People you Love. In the name of Jesus and the Holy Spirit, Amen.

    Giuseppe Antonio Ciano

    @GAC8717

    BalasHapus